Krisis Pekerjaan untuk Generasi Muda

Belakangan ini banyak anak muda mengeluh soal hidup yang terasa makin berat. Harga kebutuhan sehari-hari melonjak, dari beras sampai bensin, sementara gaji tidak naik secepat itu. Akhirnya, banyak yang merasa kerja keras pun belum cukup untuk bisa hidup nyaman, apalagi menabung atau membeli rumah.


Riset terbaru menunjukkan anak muda Indonesia termasuk kelompok paling rentan ketika bicara soal pekerjaan. Saat pandemi, misalnya, banyak yang kehilangan pekerjaan atau dipaksa menerima gaji lebih rendah ketika masuk kerja lagi. Bahkan setelah keadaan agak membaik, banyak dari mereka hanya bisa bekerja di sektor informal yang tidak punya jaminan dan kepastian (Pratomo, Rahmanto, & Yuniarti, 2025).


Fenomena ini memunculkan keresahan nyata di kalangan generasi muda. Tagar #KaburAjaDulu sempat ramai di media sosial, menunjukkan keinginan sebagian anak muda untuk mencoba hidup di luar negeri. Bahkan figur publik seperti Karin Novilda alias Awkarin memilih pindah ke Melbourne, yang makin memperkuat simbol betapa generasi muda sedang kehilangan harapan di tanah air (IDN Times, 2025).


Meski begitu, bukan berarti tidak ada jalan keluar. Peneliti menyarankan agar pendidikan vokasi dan pelatihan kerja lebih disesuaikan dengan kebutuhan industri. Dengan begitu, anak muda punya keterampilan yang tepat dan peluang kerja yang lebih besar untuk menembus pekerjaan dengan gaji dan jaminan yang layak (Putra, 2023).


Pada akhirnya, generasi muda Indonesia tetap punya semangat besar untuk bangkit. Tantangan memang berat, biaya hidup makin tinggi, dan pekerjaan kadang terasa sulit dicari. Tapi dengan dukungan kebijakan yang tepat dan keberanian untuk berinovasi, anak muda bisa membuktikan bahwa mereka bukan sekadar korban keadaan, melainkan motor perubahan menuju masa depan yang lebih baik (Al Ayyubi, Setiawan, & Abdurrahman, 2023).

👉 Follow Instagram Kami

Referensi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *