Ketika Desa Makin Melek Digital

Di tengah asumsi lama tentang jurang digital antara kota dan desa, sebuah temuan baru justru mematahkan anggapan itu. Survei nasional Kominfo dan Katadata Insight Center tahun 2022 terhadap 10 ribu responden menunjukkan bahwa skor literasi digital masyarakat desa dan kota nyaris sama. Desa mencatat skor 3,542, sementara kota 3,540. Selisih tipis yang secara statistik tidak berarti, namun secara sosial layak dicatat: desa bukan lagi “penonton” dalam transformasi digital Indonesia.

Riset yang dilakukan Maulana Akbar dan Gustaf Wijaya ini menunjukkan bahwa masyarakat desa sebenarnya menguasai pilar etika dan budaya digital lebih baik dibanding warga kota. Mereka lebih berhati-hati dalam berinteraksi, lebih menghormati ruang digital orang lain, dan cenderung membangun pola komunikasi yang lebih etis. Sebaliknya, kota unggul pada keterampilan teknis dan keamanan digital—dua kompetensi yang dekat dengan ritme kehidupan urban yang serba cepat.

Namun temuan itu tidak serta merta meniadakan tantangan. Akses internet memang makin merata, tetapi biaya paket data yang tinggi, jangkauan sinyal yang belum stabil, hingga perangkat yang tidak memadai masih menghambat sebagian masyarakat desa. Tak heran jika penggunaan internet di desa masih didominasi komunikasi dan hiburan. Belum banyak yang mengarah pada aktivitas produktif seperti belajar daring, pemasaran digital, atau pengembangan usaha.

Padahal, fondasi sosial untuk tumbuhnya masyarakat digital di desa sebenarnya kuat. Etika digital yang lebih terjaga, budaya saling menghargai, serta interaksi komunal yang melekat sejak lama dapat menjadi modal penting mendorong transformasi digital yang lebih inklusif. Tinggal bagaimana kebijakan publik mampu menjawab hambatan teknis—bukan sekadar mendorong adopsi perangkat, tapi membangun ekosistem yang membuat perangkat itu benar-benar berguna.

Peluangnya pun besar. Desa memiliki potensi menjadi pusat produktivitas digital baru. Petani bisa belajar pemasaran langsung tanpa perantara, UMKM bisa masuk pasar nasional, dan generasi muda desa bisa mengakses peluang pekerjaan yang selama ini terpusat di kota. Tantangannya adalah menggeser perilaku dari konsumsi pasif menjadi penggunaan aktif dan produktif—dari sekadar menonton konten hiburan menjadi menghasilkan nilai ekonomi dan sosial melalui teknologi.

Riset ini pada akhirnya mengingatkan bahwa masa depan digital Indonesia tak hanya bergantung pada pusat-pusat kota. Transformasi digital yang berkelanjutan justru bergantung pada sejauh mana desa bisa ikut berperan, bukan sebagai pengekor, melainkan sebagai aktor. Untuk itu, diperlukan pelatihan berbasis kebutuhan lokal, dukungan infrastruktur yang memadai, dan kampanye etika digital yang terus hidup di tengah masyarakat.

Jika langkah-langkah itu ditempuh dengan serius, desa tidak sekadar menjadi wilayah dengan akses internet. Ia bisa menjadi mesin produktivitas digital, tempat inovasi baru tumbuh dari akar rumput, dan ruang di mana teknologi benar-benar menggerakkan kehidupan warga. Dalam lanskap seperti itu, kesenjangan digital bukan hanya dipersempit—bahkan bisa jadi lenyap.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *