Kenapa Boomer Suka Repost Foto yang Sama?

Pernahkah kamu melihat bapak, ibu, atau tante di media sosial sering mengunggah foto yang sama berulang kali? Bagi generasi muda, fenomena ini mungkin terasa membingungkan atau bahkan membosankan. Tapi ternyata, kebiasaan ini punya penjelasan ilmiahnya loh!

Bagi banyak orang, terutama generasi yang lebih tua, foto bukan sekadar gambar. Foto menyimpan cerita, kenangan, dan rasa hangat. Batcho (2013) menjelaskan bahwa nostalgia adalah mekanisme emosional yang membantu seseorang menjaga identitas diri dan merasa terhubung dengan masa lalu. Ketika boomer memposting ulang foto yang sama, sebenarnya mereka sedang mengulang momen emosional yang dianggap penting. Repost bukan sekadar kebiasaan, tapi cara mempertahankan kenangan.

Generasi muda biasanya memakai media sosial untuk berbagi hal-hal baru. Tapi, generasi boomer punya pola yang berbeda. Marwick dan Boyd (2014) menemukan bahwa media sosial tidak selalu digunakan untuk novelty (kebaruan), melainkan juga untuk performance of identity—yaitu menegaskan siapa diri mereka melalui postingan. Artinya, bagi boomer, repost foto lama bukanlah sesuatu yang aneh. Justru itu adalah cara mereka menampilkan diri ke publik dengan cara yang konsisten.

Psikologi kognitif juga memberikan penjelasan menarik. Ada istilah reminiscence bump, yaitu kecenderungan orang untuk lebih sering mengingat momen tertentu yang penuh makna emosional. Rubin dan Schulkind (1997) menunjukkan bahwa orang dewasa lebih cenderung mengulang kenangan yang punya nilai emosional tinggi. Inilah sebabnya mengapa boomer sering mengunggah foto lama berulang kali: karena foto itu mewakili memori yang benar-benar penting bagi mereka.

Faktor teknologi juga ikut berperan. Tidak semua generasi boomer terbiasa dengan sistem arsip digital yang modern. Hargittai dan Dobransky (2017) menekankan bahwa keterbatasan literasi digital pada orang dewasa membuat mereka menggunakan cara sederhana untuk menyimpan foto: dengan repost. Jadi, meski bagi kita terlihat monoton, bagi mereka itu adalah cara paling mudah dan praktis untuk tetap eksis di dunia digital.

Fenomena repost foto oleh boomer ternyata punya banyak lapisan makna—mulai dari nostalgia, identitas sosial, memori emosional, hingga keterbatasan literasi digital. Apa yang sering kita lihat sebagai “spam”, sebenarnya adalah bentuk ekspresi diri dan cara sederhana menjaga kenangan tetap hidup. Fenomena sehari-hari seperti ini menarik untuk dibedah lewat lensa riset. Yuk, kita analisis lebih dalam hal-hal unik di sekitar kita melalui Scimove. ✨🔬


📚 Daftar Pustaka

  • Batcho, K. I. (2013). Nostalgia: The bittersweet history of a psychological concept. History of Psychology, 16(3), 165–176. https://doi.org/10.1037/a0032427
  • Hargittai, E., & Dobransky, K. (2017). Old dogs, new clicks: Digital inequality in skills and uses among older adults. Canadian Journal of Communication, 42(2), 195–212. https://doi.org/10.22230/cjc.2017v42n2a3176
  • Marwick, A. E., & Boyd, D. (2014). Networked privacy: How teenagers negotiate context in social media. New Media & Society, 16(7), 1051–1067. https://doi.org/10.1177/1461444814543995
  • Rubin, D. C., & Schulkind, M. D. (1997). The distribution of autobiographical memories across the lifespan. Memory & Cognition, 25(6), 859–866. https://doi.org/10.3758/BF03211330

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *