Scimove Podcast resmi hadir untuk menyederhanakan hasil riset yang kerap dianggap kaku agar bisa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pada episode perdana ini, Hakim sebagai host berbincang dengan Rendi Febrianda, peneliti dari Pusat Riset Ekonomi Industri, Jasa, dan Perdagangan BRIN, mengenai masa depan kendaraan listrik atau Electric Vehicle (EV) di Indonesia. Obrolan ini tidak hanya menyoroti angka penjualan dan tren teknologi, tetapi juga menyentuh sisi sosial, ekosistem industri, hingga kebiasaan konsumen yang sedang berubah.
Dari Riset ke Realitas: EV dalam Pandangan BRIN
Rendi menjelaskan bahwa BRIN telah menekuni riset mengenai kendaraan listrik sejak 2023. Dua paper yang ia dan timnya hasilkan saling melengkapi: yang pertama berbasis data sekunder berupa laporan resmi pemerintah maupun jurnal nasional dan internasional, sedangkan yang kedua menekankan pada data empiris melalui wawancara dan diskusi kelompok dengan para pelaku industri serta birokrasi. Dari riset tersebut, terlihat jelas bahwa perkembangan kendaraan listrik di Indonesia bukan lagi wacana belaka, melainkan sudah masuk ke tahap implementasi nyata.
Pertumbuhan pasar EV pun mulai terlihat. Pada tahun 2024, pangsa pasar kendaraan listrik di Indonesia tercatat mencapai 6–7% dari total penjualan mobil baru. Angka ini memang masih jauh di bawah Thailand yang sudah mencapai 12–13%, apalagi dibandingkan China yang menjadi raksasa dunia. Namun, perbedaan tersebut tidak serta-merta menutup peluang Indonesia untuk mengejar ketertinggalan. Justru, menurut Rendi, kondisi ini bisa menjadi dasar untuk mempercepat adopsi dengan kebijakan tepat dan dukungan ekosistem industri yang kuat.
Perjalanan menuju dominasi kendaraan listrik memang penuh tantangan. Salah satu isu yang paling banyak diperbincangkan publik adalah soal harga. Ketika pertama kali masuk Indonesia pada 2021–2022, EV memang dianggap barang mewah. Saat itu hanya ada dua pemain besar, Hyundai dari Korea Selatan dan Wuling dari China, dengan harga jual yang menembus angka Rp700–800 juta. Tak heran jika mobil listrik lebih banyak dibeli sebagai kendaraan kedua atau ketiga, bukan kendaraan utama. Tetapi kini, dengan semakin banyaknya kompetitor yang masuk, harga kendaraan listrik turun drastis hingga tersedia dalam rentang Rp200 jutaan.
Tantangan dan Mitos: Antara Harga, Baterai, dan Infrastruktur
Selain harga, tantangan lain datang dari ketersediaan infrastruktur pengisian daya. Banyak orang merasa khawatir karena belum banyak melihat SPKLU di sekitar mereka. Padahal, menurut Rendi, pemerintah sudah mewajibkan setiap kantor PLN menyediakan SPKLU, begitu juga di pusat perbelanjaan besar dan rest area tol. Meski begitu, kebanyakan pengguna EV lebih sering mengisi daya di rumah. Selain lebih praktis, biaya listrik per kWh di rumah juga jauh lebih murah dibandingkan mengisi di SPKLU. Dengan demikian, isu keterbatasan infrastruktur publik sebetulnya bukan hambatan besar, melainkan lebih pada soal penyesuaian kebiasaan.
Kekhawatiran lain yang sering muncul berkaitan dengan baterai. Banyak mitos beredar bahwa baterai kendaraan listrik mudah rusak dan mahal untuk diganti. Rendi meluruskan bahwa baterai EV justru memiliki jaminan masa pakai yang panjang, dengan garansi minimal delapan tahun bahkan ada yang seumur hidup. Investasi besar dalam riset dan pengembangan membuat baterai semakin tahan lama sekaligus lebih murah diproduksi dibanding satu dekade lalu. Justru, jika dibandingkan dengan mobil berbahan bakar fosil, baterai EV bisa disejajarkan dengan mesin mobil konvensional yang menjadi komponen paling mahal dan kompleks.
Namun, persoalan lingkungan memang tidak bisa diabaikan. Baterai EV mengandung logam berbahaya yang berpotensi menjadi limbah beracun bila ditelantarkan. Meski begitu, semua baterai dapat didaur ulang. Korea Selatan dan China sudah lebih dulu membangun ekosistem daur ulang baterai, sementara Indonesia sedang merintis kerja sama serupa. Hal ini penting untuk menegaskan bahwa baterai yang sudah tidak terpakai tetap memiliki nilai ekonomi karena kandungan nikel dan material lain dapat dimanfaatkan kembali. Dengan cara ini, isu limbah yang kerap dipakai untuk menyerang keberlanjutan EV sebetulnya bisa ditepis.
Peluang Besar bagi Industri Otomotif Lokal
Dari sisi industri, kendaraan listrik justru menghadirkan peluang yang belum pernah dimiliki Indonesia sebelumnya. Pada kendaraan konvensional, teknologi kunci ada pada mesin bakar, yang hingga kini dikuasai penuh oleh Jepang dan dijaga ketat melalui paten. Itulah sebabnya Indonesia sulit mengembangkan merek mobil sendiri meski industri otomotif sudah lama hadir di dalam negeri. Kendaraan listrik berbeda, karena teknologi kuncinya—motor listrik, kontroler, dan baterai—bersifat lebih terbuka. Situasi ini dianalogikan Rendi seperti perbedaan antara iOS yang eksklusif dengan Android yang terbuka untuk dimodifikasi.
Keterbukaan ini membuat brand lokal lebih leluasa masuk ke pasar. Polytron, Maka Motors, hingga beberapa startup baru mulai memproduksi motor listrik dengan desain rangka dan sistem sendiri, meski masih bergantung pada impor baterai dari China. Langkah ini menandai titik balik penting, karena Indonesia tidak hanya berhenti sebagai pemasok bahan mentah seperti nikel, tetapi mulai dikenal sebagai produsen kendaraan jadi. Momentum ini bisa menjadi jalan bagi industri nasional untuk naik kelas di peta otomotif global, terutama jika riset dan pengembangan terus didorong oleh kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan sektor swasta.
Lebih jauh lagi, desain industri lokal juga bisa berkembang pesat. Walaupun saat ini sebagian komponen utama masih impor, produk akhir yang dihasilkan di dalam negeri bisa menumbuhkan kebanggaan nasional sekaligus memperkuat daya saing. Rendi optimistis bahwa meskipun perjalanan masih panjang, keterbukaan teknologi EV akan memberikan ruang bagi generasi insinyur dan desainer Indonesia untuk berkreasi, memodifikasi, dan menciptakan inovasi baru. Inilah kesempatan emas yang jarang terjadi dalam sejarah industri otomotif Indonesia.
Mengubah Mindset Konsumen: Dari BBM ke Listrik
Meski peluang terbuka lebar, peralihan ke kendaraan listrik tidak hanya soal teknologi, tetapi juga soal pola pikir konsumen. Perbedaan mendasar terletak pada cara mengisi daya. Jika kendaraan berbahan bakar fosil cukup diisi di SPBU dalam hitungan menit, EV membutuhkan manajemen daya yang lebih disiplin. Pengguna disarankan untuk tidak menunggu hingga baterai benar-benar habis, melainkan mengisi ulang ketika masih 40–50%. Cara ini tidak hanya mempercepat waktu pengisian, tetapi juga menjaga kesehatan baterai dalam jangka panjang.
Selain itu, pengalaman menggunakan EV menuntut keterampilan digital dasar. Proses pengisian di SPKLU biasanya menggunakan aplikasi, sehingga pengguna perlu terbiasa dengan teknologi digital. Perubahan ini menandakan bahwa adopsi EV juga mendorong masyarakat menjadi lebih tech-savvy. Dari riset awal, sebagian besar pengguna di kota-kota seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Bali ternyata tidak mengalami kesulitan berarti dalam beradaptasi. Bahkan setelah beberapa bulan, rasa cemas ketika baterai mendekati habis semakin berkurang karena pengguna sudah bisa memperkirakan jarak dan kebutuhan harian mereka.
Namun, Rendi menekankan bahwa EV tidak selalu cocok untuk semua orang. Mereka yang jarang menggunakan kendaraan pribadi, lebih nyaman dengan transportasi umum, atau gemar memodifikasi mesin justru mungkin tidak akan merasakan banyak manfaat. Begitu pula bagi mereka yang sering bosan dan kerap mengganti mobil setiap dua atau tiga tahun. Pasar kendaraan listrik akan lebih optimal untuk masyarakat dengan intensitas penggunaan tinggi, karena semakin sering digunakan, semakin besar pula keuntungan operasional yang didapatkan.
Penutup: Momentum Besar untuk Indonesia
Di akhir perbincangan, Rendi menyampaikan bahwa kendaraan listrik bisa menjadi momentum besar bagi Indonesia untuk meneguhkan diri di industri otomotif global. Dengan teknologi yang lebih terbuka, peluang bagi produsen lokal untuk berinovasi semakin besar, sementara masyarakat dapat menikmati manfaat nyata berupa pengurangan polusi, biaya operasional yang murah, dan insentif pajak dari pemerintah. Namun, ia juga mengingatkan bahwa peralihan ke EV harus realistis, dengan mempertimbangkan kebutuhan dan gaya hidup masing-masing konsumen.
Hakim menutup obrolan dengan pesan bahwa riset bukan hanya milik para peneliti, tetapi juga untuk masyarakat luas. Scimove Podcast akan terus menghadirkan diskusi-diskusi ilmiah dalam kemasan populer agar bisa dipahami semua kalangan. Episode perdana ini hanyalah permulaan dari perjalanan panjang membumikan sains untuk semua.
🎧 Dengarkan versi lengkap perbincangan ini di:
👉 YouTube
👉 Spotify
👉 Noice


Leave a Reply