Belakangan ini, Roblox menjadi sorotan publik setelah muncul berbagai laporan terkait risiko yang mengancam anak-anak. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, bahkan menegaskan larangan bagi anak-anak untuk memainkan game ini, karena dianggap sarat dengan unsur kekerasan yang dikhawatirkan dapat ditiru dalam kehidupan nyata. Selain itu, laporan internasional juga mencatat adanya kasus eksploitasi anak, konten seksual, hingga praktik pedofilia yang bermula dari interaksi di dalam platform ini. Meski pihak Roblox mengklaim sudah menyiapkan sistem filter percakapan, moderasi otomatis, dan fitur kontrol orang tua, tetap saja potensi bahaya tidak bisa diabaikan begitu saja.
Menurut Mia Rahma Romadona, S.Psi., M.Psi., Psikolog dan Peneliti BRIN, Roblox memang bukan ruang yang sepenuhnya aman, terutama bagi anak di bawah 13 tahun. Namun, risiko ini bukan berarti tidak dapat diantisipasi. Dengan pengawasan orang tua, batasan usia, serta pendidikan tentang keamanan digital, Roblox masih bisa menjadi ruang bermain sekaligus belajar yang relatif aman untuk anak-anak yang lebih besar. “Sebagai psikolog, saya sangat peduli dengan isu keamanan anak-anak di ruang digital, terutama di platform populer seperti Roblox. Beberapa langkah preventif dan pendampingan orang tua mutlak diperlukan agar anak-anak tidak terjebak dalam risiko berbahaya,” jelasnya.
Upaya preventif yang dapat dilakukan orang tua antara lain memastikan anak-anak mematuhi batasan usia minimal 13 tahun untuk pengguna Roblox, membatasi durasi bermain tidak lebih dari satu jam per hari, serta mengajarkan anak-anak mengenai keamanan online. Selain itu, orang tua perlu aktif menggunakan fitur pelaporan konten, melakukan komunikasi terbuka dengan anak tentang pengalaman mereka, serta memanfaatkan alat pengawasan yang tersedia untuk memantau aktivitas anak di platform ini.
Tidak hanya pencegahan, orang tua juga perlu memiliki strategi dalam mengatasi isu keamanan digital. Komunikasi terbuka tentang kelebihan dan kekurangan bermain game, menyediakan alternatif aktivitas seperti olahraga atau seni, serta memberi penghargaan ketika anak mematuhi aturan adalah beberapa langkah sederhana yang bisa memperkuat pengendalian diri anak. Menurut Mia Rahma, teladan orang tua dalam menggunakan teknologi secara bijak juga menjadi faktor penting agar anak dapat meniru perilaku yang sehat dalam berinteraksi dengan dunia digital.
Dengan kolaborasi antara orang tua, anak, dan pihak pengembang, Roblox seharusnya bisa dimanfaatkan sebagai media eksplorasi dan kreativitas, tanpa harus mengorbankan keselamatan anak-anak. Namun, satu hal yang pasti, sebaik-baiknya aktivitas bermain anak adalah ketika mereka dapat melakukannya bersama orang tua, di ruang nyata maupun digital.


Leave a Reply