Sejak Dana Desa mengalir ke ratusan ribu desa di Indonesia, pembangunan fisik berjalan lebih cepat daripada sebelumnya. Jalan diperkeras, jembatan dirapikan, balai desa dipoles ulang. Namun di balik kemajuan itu, sebuah nilai sosial yang sudah berakar ratusan tahun tampak bergerak perlahan: gotong royong. Tradisi yang dulu menjadi nadi kehidupan desa kini mulai bergeser mengikuti ritme baru administrasi, laporan anggaran, dan daftar hadir.
Studi terbaru yang terbit di Nature—melibatkan lima desa di Kabupaten Blora—menggambarkan perubahan itu dengan cukup telak. Semangat sukarela menurun, tingkat saling bantu menyusut, dan kepercayaan terhadap aparat desa ikut tergerus. Bila dulu warga turun tangan tanpa diminta, kini gotong royong lebih sering hadir sebagai kegiatan resmi yang bersandar pada anggaran, rencana kerja, dan daftar kehadiran yang wajib ditandatangani. Tradisi kolektif yang dulu hangat, kini rasanya seperti sesi kerja bakti yang masuk kalender resmi desa.
Riset mencatat angka-angka yang menarik sekaligus mengkhawatirkan: penurunan semangat sukarela sebesar 0,31, penurunan perilaku saling bantu 0,19, dan merosotnya kepercayaan pada aparat desa 0,13. Perubahan ini tidak serta-merta buruk—birokrasi memang menuntut transparansi. Tapi dinamika sosial di desa menunjukkan bahwa modernisasi membawa konsekuensi: rasa kebersamaan tidak selamanya tumbuh dalam sistem yang serba terukur.
Namun bukan hanya soal kehilangan. Studi yang sama mencatat meningkatnya peran perempuan desa dalam arena publik. Mereka kini terlibat dalam rapat, menyusun laporan proyek, mengelola dana, bahkan menjadi penggerak kegiatan desa. Ruang publik yang dulu dikuasai laki-laki kini lebih terbuka. Meski begitu, beban ganda tetap menghantui: perempuan harus menyelesaikan urusan administrasi, namun tetap diharapkan mengurus dapur dan rumah tangga. Perubahan peran ini membawa peluang pemberdayaan, sekaligus risiko kelelahan sosial.
Gotong royong yang kini memiliki RAB, daftar hadir, dan insentif tidak lantas menjadi buruk. Sistem membuat proses pembangunan lebih tertata dan bisa diawasi. Namun sistem juga bisa merapuhkan sisi emosional yang dulu menjadi inti gotong royong: kerja bersama tanpa pamrih. Modernisasi desa berjalan maju, tapi tak jarang meninggalkan ruang-ruang yang dulu menjadi ikatan kepercayaan antarwarga.
Di sinilah persoalan besar pembangunan desa hari ini: bagaimana menata sistem tanpa mengikis rasa? Bagaimana mendorong partisipasi tanpa membuatnya terasa seperti kewajiban administratif? Dan bagaimana menjaga agar gotong royong tidak berubah menjadi hubungan transaksional yang dibangun atas insentif, bukan kepedulian?
Studi ini mengingatkan bahwa pembangunan desa tidak hanya tentang infrastruktur dan administrasi yang rapi. Ia juga tentang merawat rasa kebersamaan, memastikan bahwa warga tidak merasa asing di desa mereka sendiri. Modernisasi seharusnya membuat desa tumbuh, bukan menjauh.
Jika desa mampu meramu model gotong royong yang hybrid—sistematis namun tetap hangat—maka pembangunan fisik dan sosial dapat berjalan beriringan. Karena pada akhirnya, desa bukan sekadar wilayah administratif. Ia adalah tempat di mana kepercayaan, kebersamaan, dan solidaritas pernah—dan seharusnya tetap—menjadi kekuatan utamanya.


Leave a Reply